Friday, March 8, 2013

Volcano Resolves - Chapter 2


Duduk termenung dalam mobilku sembari menghisap sebatang rokok untuk menghangatkan badan, aku mengulang lagi kisah hidupku yang biasa-biasa saja. Dua puluh delapan tahun hidupku hanya kuhabiskan di negara ini, meski terkadang ayah akan mengajakku keluar negeri untuk mengikuti pekerjaan bisnis, totally bisnis karena aku tak pernah berlibur.

Sungguh tragis, dalam usiaku yang sepertiga abad ini aku masih dikekang oleh ayahku, Dia masih mengurusiku seperti anak kecil. Atau mungkin akulah yang tidak ingin terlepas dari kungkungan ayahku? Semua disediakan oleh ayah tanpa kuminta, dia memastikanku mendapat tempat di universitas terkenal di Inggris, memastikanku mendapat tempat di perusahaan kami hanya sehari setelah aku lulus dengan cum laude.

Ayah tidak memberikanku istirahat seharipun, dia menarik kerah kemejaku dan melemparkan tubuhku untuk duduk mematung dibalik kursi sepanjang hari. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi akuntan, menghitung neraca dan mengatur rencana-rencana pengeluaran dan pemasukan bank-bank dalam rantai kami.

Seringkali aku terpaksa membawa pulang pekerjaanku kerumah hanya agar selesai tepat pada waktunya dan diakhir bulan aku bisa menghabiskan sehari-dua hari ku yang kosong untuk diriku. Namun tak pernah kudapatkan. Ayah selalu memiliki alasan untuk membuatku bekerja. Aku tak pernah mengeluh, aku tak pernah membantah bahkan aku tak pernah menolak. Aku hanya diam mengerjakan perintahnya.

Bila Louisa mengundangku makan malam dirumah mereka, aku akan menyantap makananku dalam diam. Hanya suara pisau dan garpu yang beradu dengan piring terdengar diruang makan. Awalnya Louisa memang gerah dengan sikapku namun lambat laun dia mulai terbiasa karenanya. Bahkan adik-adik ku tidak begitu dekat denganku karena sifat pendiamku.

Well bukannya aku membenci mereka, dikepalaku hanya terlalu banyak pikiran dan aku tidak memiliki waktu lagi untuk bermain dengan mereka hingga mereka remaja. Saat mereka remaja barulah mereka sering menemuiku kerumah, mereka akan memintaku untuk mengantarkan mereka clubbing, ke bar, kemanapun mereka belum pantas untuk pergi. Aku akan menjadi penjamin mereka dan saat berada di dalam klab malam atau bar, aku terpaksa harus mengawasi mereka hingga beberapa orang wanita mendekatiku.

Pernah beberapa kali aku melupakan mereka dan justru pergi dengan wanita yang mendekatiku. Hanya dua jam dan ketika aku kembali, mereka masih menungguku dengan wajah cemberut. Mereka bersenang-senang, akupun ingin bersenang-senang, apa yang mereka keluhkan?

Aku memiliki dua orang adik perempuan, mereka kembar. Sekarang usia mereka tujuh belas tahun, beda sebelas tahun dariku. Saat ayahku menikahi ibu mereka, dia sudah mengandung. Tak lama kemudian mereka lahir dan akulah orang pertama yang menunggui mereka didalam inkubator, mereka lahir premature namun kini mereka tumbuh menjadi gadis remaja yang sempurna.

Mungkin di usia mereka ini mereka telah mengenal laki-laki, aku tidak tahu. Saat ini adalah usia dimana mereka ingin mengetahui semua fungsi tubuh mereka, untuk wanita itu terlalu lamban. Aku sendiri telah mengeksplorasi fungsi tubuhku saat usiaku lima belas tahun, saat malam perpisahan di junior high school, prom night. Aku memerawani mantan pacarku dalam mobil limousine milik ayahku. Sebuah kenangan yang tak mungkin kulupakan, aku kehilangan keperjakaanku malam itu.

Setelah makan siang bersama Mr. Duncan, aku mengemudikan mobilku menuju rumah ayahku. Malam ini memang Louisa mengundangku lagi, dia sangat senang memasak mungkin karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Ayahku masih sibuk dengan pekerjaan, sedangkan kedua anak kembarnya sudah tidak perlu perhatiannya lagi, hanya dengan memasaklah Louisa bisa menghabiskan waktunya dirumah.

Saat aku tiba, mereka telah menungguku di ruang tamu. Rumah asri bertingkat dua itu telah menjadi tempat tinggal mereka selama delapan belas tahun dan tak pernah terlihat usang. Ayah selalu memperbaharui setiap bagian rumah itu dengan teratur, sedang rumahku sendiri meski tak sesering rumah ini, juga mendapat perawatan secukupnya. Aku memiliki empat orang pelayan yang bertugas membersihkan rumah luas itu, dan itu adalah jumlah yang sangat sedikit dibandingkan saat kakekku masih hidup. Paling sedikit keluarga ibuku memiliki tiga puluh orang pelayan yang melayani satu keluarga disana.

Sehari-harinya para pelayan akan bercakap-cakap di dapur membuat roti untuk diberikan pada panti asuhan di dekat rumah, kakekku adalah orang yang dermawan, tak heran ribuan orang datang melayat saat dia pergi.

“Good evening” sapaku ketika membuka pintu rumah ayahku.

Si kembar twinkle dan twinkling begitu aku memanggil adik-adikku menghambur menyambutku. Kedua tanganku telah dikuasai oleh mereka sebelum aku sanggup melepaskan jaket hangatku. Entah sejak kapan mereka mulai menyukaiku, seingatku dulu mereka akan bersembunyi dibalik kursi yang kududuki, tak berani mendekat karena aku memandangi mereka dengan tajam.

Sejak saat itu mereka ketakutan, namun kini aku tak melihat ketakutan itu lagi di mata mereka. Mereka telah berubah, bukan lagi anak-anak kecil penakut, remaja-remaja ini memiliki sifat ingin tahu yang besar. Dan mereka hanya bisa menanyakan hal itu padaku. Mungkin malam ini mereka akan menanyakanku lagi, aku tak tahu bila memiliki adik perempuan membuatku sesibuk ini.

Louisa memeluk dan mengecup kedua pipiku, dia sangat ramah. Namun aku tak pernah membuka hati untuknya, dia hanyalah istri ayahku.

“Kau datang.. Bagaimana harimu, Eric?” tanya Louisa padaku.

“Tidak buruk” jawabku sambil menghalau kedua adikku agar melepaskan tanganku sehingga aku bisa melepaskan jaket hangat dan jasku. Perapian telah dinyalakan dan suhu ruangan cukup hangat, aku tidak perlu mengenakan jas hangatku lagi.

Louisa, dia menikahi ayahku saat usianya tiga puluh empat tahun, kini Louisa berusia lima puluh dua tahun, dia lebih tua dua tahun dari ayahku. Saat ayah menikahi Louisa, ibu tiriku ini masih sendiri. Dia belum pernah menikah sebelumnya, kurasa ayahku menduda di usianya yang masih sangat muda.

Dengan perawakan tubuh yang pendek, yang tak lebih dari dada ayahku, Louisa terlihat paling mungil di antara kami berlima. Postur tubuhku hampir sama dengan ayahku, meski dia sedikit lebih bungkuk karena faktor usia yang mulai menua. Sedangkan si kembar, mereka sedang beranjak remaja dan tingginya tak kurang dari pundakku. Mereka mendapatkan genetik tinggi tubuh dari ayah kami tentunya.

Louisa memiliki wajah bulat yang penuh, pipinya selalu merah merona karena udara yang dingin. Dia senang berkebun, di depan rumah nampak sebuah rumah kaca dengan didalamnya terdapat kebun tomat, cabai, paprika dan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan yang bisa dipetik dan dimakan buahnya, nampak kontras dengan rumah mewah yang mereka tinggali.

Sebelum aku sempat menuangkan segelas scotch whiskey di gelasku, ayah memintaku untuk mengikutinya. Pembicaraan bisnis, seperti biasa. Dia akan menginterogasiku sebelum mengizinkan piring makanku dipenuhi oleh masakan Louisa. Dia sungguh ayah yang kejam. Dengan enggan kuletakan kembali whiskey yang begitu menggoda di atas meja, mengikuti ayahku ke ruangan samping. Dia duduk tepat disebelah meja berlaci dan mengeluarkan sebuah amplop tertutup yang tidak dibukanya. Dia menungguku duduk di depannya, dan akupun duduk.

“Bagaimana hasil pertemuanmu dengan Mr. Duncan?” tanya ayahku langsung pada inti permasalahan.

Aku mengambil sebuah amplop putih kecil dari saku kemejaku. Kuserahkan padanya dan memintanya untuk membuka amplop itu. Disana telah dijelaskan apa yang perlu kami siapkan agar semua berjalan lancar. Ayahku mengangguk dan memuji kemampuanku, namun kutanggapi dengan datar.

Lalu ayah menyodorkan amplop yang sedari tadi dipegangnya padaku.

“Bukalah” perintahnya.

Dengan penasaran kubuka amplop itu, berisi beberapa berkas dan sebuah buku beserta sebuah surat dalam amplop resmi. Surat itulah yang pertama kubuka dan kubaca isinya.

“Reich’s Financial Solution Head Office”

Kubaca habis surat itu lalu menghela nafasku. Entah apa yang dimaksudkan ayah dengan memberiku surat ini.

“Apa artinya?” tanyaku singkat.

Ayah membakar cerutu dimulutnya, menghembuskan asap tebal itu ke udara.

“Kau akan mendapat tantangan pertamamu, Eric. Kau akan mengepalai kantor cabang di Indonesia, saat ini kantor itu sedang berada di ambang kehancuran. Banyak bank-bank yang tergabung dalam rantai finansial kita sedang terkena kasus korupsi. Kau harus datang kesana dan menangani hal ini. Aku yakin kau bisa” jawab ayahku tenang. Matanya mengawasi reaksiku bagai elang yang mengawasi mangsanya, ayah menunggu jawabanku.

Aku tak tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini. Indonesia? Dimana tepatnya negara ini berada? Aku memang pernah mendengar negara ini di berita-berita dunia, namun semua itu adalah berita-berita mengenai bom, teroris, korupsi, skandal, perang saudara dan hal-hal buruk lain yang tak bisa aku bayangkan. Ke negara seperti apa ayahku akan membuangku? Sungguh tak bisa kupercaya, tantangan yang dia berikan sungguh teramat sulit.

Tapi haruskah aku mengeluh sekarang? Setelah selama ini aku diam? Setelah akhirnya aku mendapat pengakuan ayahku? Bukankah bila aku berhasil melewati tantangan ini kemudian jalanku untuk menjadi pengganti ayahku akan semakin mulus? Aku tahu tidak semudah itu ayah akan memberikan kedudukannya sekarang. Meski aku adalah anak ayahku, bukan berarti jabatan tertinggi perusahaan akan otomatis diwariskan padaku.

Sejak pertama menginjakkan kakiku diperusahaan ini, aku bersusah payah untuk mendapatkan kedudukanku sekarang. Aku bekerja sama kerasnya dengan pekerja-pekerja lain, menjadi anak ayahku tidak serta merta memberikanku kemewahan untuk bersantai-santai menikmati hasil jerih payah ayahku selama ini.

Aku mendapatkan kemampuanku dari pengalamanku bekerja diperusahaan ini selama lima tahun lamanya. Lima tahun yang panjang, melelahkan dan penuh penderitaan. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Setidaknya meski aku belum yakin dengan masa depanku, kini aku memiliki tujuan untuk kukejar. Mungkin di negara nun jauh disana dimana bahasanya pun tak kukenal, aku akan menemukan seseorang yang kucari. Mungkin disana ada petunjuk mengenai mimpi-mimpiku. Mungkin..

“Baiklah. Aku siap kapanpun” jawabku.

Ayahku tersenyum senang, dia kemudian menjabat tanganku lalu kembali ke ruang tamu, meninggalkanku mematung memandangi berkas-berkas dalam amplop itu. Berkas-berkas berisi laporan dan catatan mengenai bagaimana buruknya manajemen bank-bank yang kami tangani di Indonesia. Dan kuhela nafasku, menyesali keputusanku. Mungkin seharusnya aku berkata tidak. 

16 comments:

  1. Wah... Eric mo ke indonesia???

    ReplyDelete
  2. aaih,,,ntar ketemuin aq ma Eric ya cyiiiinn,,,,?? #puppyeyes,,,

    ReplyDelete
  3. Waaahh siap2 menunggu kedatangan eric..#weeeww
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. jgn lupa jemput dibandara sambil bawa spanduk gede2 ya :D

      Delete
  4. Welcome to Indonesia, Darl
    *hug n kiss Eric*

    Thanks mba Shin :*

    ReplyDelete
  5. aku mau ikutan juga donk mbak shin
    jadi penasaran nih seganteng apa nih eric..
    hahahahahaha..........ntar akunya berdiri dipaling belakang aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaaha.. ya ya ya.. antri tiket ya ihihi

      Delete
  6. Wah baru tau aq klo ada lnjutannyan dah di posting :)
    ThankZ mbak shin :)

    ReplyDelete
  7. Sist bagian 1000- I Kadek kupit Arya jaya & ni Komang tri liskarini kok ndak bs di klik knp...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena belum ada ceritanya. linknya aku ketik http://na.com lol kekwkwkwkkwkw

      Delete
  8. mba shin bilangin eric klaw udah nyampe indonesia jng lupa mampir kpalembang y...
    makasih mbg...

    ReplyDelete
  9. Eric mau ketemu aq di indo, hahahaa br smpet bacaa lanjut dunk mba shib sayang:*

    ReplyDelete
  10. wew baru nemu yg ini aku ckckck Eric sdh di indo dong sekarang trs updatenya kapan #duaaggg#

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...