Wednesday, April 10, 2013

Volcano Erupts - Chapter 7



Luther sedang berbaring diam di atas ranjangnya, dia telah siuman. Pagi ini istrinya Bianca melayaninya dengan penuh perhatian, perhatian yang telah lama tidak pernah diberikannya. Kehidupan rumah tangga mereka memang tidak seindah drama telenovela di tivi-tivi, mereka menikahpun hanya karena dijodohkan. Tapi selama hidupnya Luther tidak pernah menolak apapun keinginan wanita yang menjadi istrinya ini, dia selalu mengalah dan tak ingin berdebat.

Dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya pada wanita yang begitu susah untuk di dekati, Bianca sibuk dengan hiburannya sendiri tanpa memperdulikan suaminya yang membutuhkan perhatiannya meskipun mereka menikah tanpa landasan cinta.

Luther menghargai istrinya, dia tidak pernah meminta lebih dari apa yang bisa diberikan Bianca padanya. Luther hanya menyimpan sendiri beban masalah pekerjaan, keluarga dan frustasinya seorang diri. Hingga kemudian sosok Wati Suteja masuk ke dalam hidupnya.


Wanita sederhana yang rendah hati, selalu bertahan meskipun dia kerap memarahinya dan menjejalkan semua permasalahan dalam hidupnya kepada wanita ini. Secara tidak sadar, Luther selalu mencari Wati saat dia ingin mencurahkan seluruh permasalahannya. Memang pada awalnya Luther akan mengumpat, memaki dan berkata-kata tidak enak padanya, Luther akan memarahinya tanpa alasan yang jelas. Sedikit saja gerakan yang dilakukan Wati mampu memancing emosi Luther.

Wanita itu tidak pernah tahu, Luther melakukannya karena dia tertarik kepadanya. Luther melampiaskan frustasinya karena tidak bisa memiliki Wati hanya dengan cara itu, sehingga mereka akan selalu berdekatan dan bisa menghabiskan waktu bersama, sehingga Luther akan selalu berada dalam hati Wati.

Luther segan meminta Wati untuk menemaninya makan siang, atau sekedar menghabiskan waktu berbincang-bincang diluar jam kerja mereka. Luther tidak ingin merusak nama baik wanita lugu ini. Seringkali Luther akan memilih untuk memesan makanan dari luar dan mengirimkan makanan itu ke kantornya. Dia akan meminta Wati untuk menemaninya makan di kantor, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Wati tidak bisa menolak, siapa yang berani menolak kharisma seorang Luther? Jauh di lubuk hatinya Wati memiliki perasaan asing ini terhadap bossnya, namun dipendamnya. Dia cukup waras sehingga tidak menjerumuskan hidupnya dalam mahligai rumah tangga bossnya yang bahagia, atau begitulah yang nampak dari permukaan.

Luther memang sangat mencintai keluarganya, anak-anaknya, namun tidak demikian dengan istrinya. Selama hampir empat tahun pernikahannya dengan Bianca kala itu, Luther selalu berusaha untuk menerbitkan sedikit saja rasa cinta di hatinya untuk Bianca, namun dia selalu gagal. Hanya rasa kasihan dan tanggung jawab yang mampu membuatnya bertahan hingga detik ini.

Luther tidak pernah memiliki niatan untuk mengkhianati istrinya, tidak dengan wanita sembarang yang hanya bermodalkan tubuh seksi yang kadang merayunya di sela-sela pertemuan bisnisnya ke kota lain. Luther tidak gampang tergoda, namun Wati Suteja.. Wanita ini menggodanya dalam keluguannya, dalam kepolosannya yang bahkan tidak disadarinya. Wati Suteja telah mencuri hatinya dan tak ingin mengembalikannya lagi.

Luther pria normal, tentu dia pernah berimajinasi erotis dan membayangkan Watilah yang berada diatas ranjangnya dan bukan istrinya. Namun setelah percintaan itu, Luther akan merasa bersalah terhadap istrinya karena membayangkan wanita lain padahal Bianca lah yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat.

Dan keesokan harinya, Luther pasti melemparkan beberapa amarahnya yang tak beralasan kepada Wati, hanya untuk menutupi rasa bersalah dan frustasinya.

Luther bukanlah pria yang mudah marah atau terpancing kemarahannya. Bila Wati berada di dekatnya, perasaan tak berdaya karena tidak bisa memiliki wanita ini muncul ke permukaan dan menyulut emosi terdalam Luther. Setiap hari dia akan menyiksa wanita ini dengan perintah-perintah menyebalkan dan mengesalkan yang mungkin tidak akan bisa dikerjakan oleh sekretaris lain. Tapi Wati bertahan, karena hanya inilah satu-satunya cara agar dia dapat menghasilkan uang yang cukup untuk keluarganya. Alasan lain yang disimpannya untuk dirinya sendiri adalah agar dia bisa selalu mencuri pandang pada sosok atasannya yang tampan, berwibawa sekaligus menyeramkan ini.

Wati berusia dua puluh satu tahun ketika Luther menodainya di dalam kantor atasannya itu, kala itu Luther sendiri berusia tiga puluh satu tahun. Wati berusia dua puluh dua tahun saat melahirkan Elizabeth, anak mereka. Dan Wati tewas dalam kecelakaan tragis yang merengut nyawanya pada usianya yang ke tiga puluh tahun. Usia yang masih teramat muda untuk pergi meninggalkan dunia, meninggalkan laki-laki yang dicintainya dan seorang anak gadis yang terlunta-lunta tanpa masa depan yang jelas.

Luther menghela nafasnya, tubuhnya begitu lemas memikirkan anaknya Piter telah bertunangan dengan Elizabeth, anaknya yang lain. Luther tidak akan membohongi dirinya dengan berpikir Piter dan Liza belum memiliki hubungan yang hanya pantas dimiliki oleh sepasang suami-istri, Piter bukan laki-laki seperti itu. Dia tahu anaknya Piter, Piter tidak akan melepaskan apa yang dimilikinya, dia akan melakukan segala cara agar Liza menjadi miliknya dan tak ada jalan untuk pergi meninggalkannya. Karena bagi laki-laki keturunan Van Der Wilhem, cinta hanya diturunkan sekali dalam hidup mereka, yang disadarinya belakangan.

Namun Luther tidak menyesal memiliki keluarga bersama Bianca, dia tidak menyesali kehadiran anak-anaknya yang memang lahir bukan atas cinta. Anak-anak yang lahir dari situasi rumah tangga yang stabil, anak-anak yang memiliki rasa hormat yang sempurna kepada kedua orang tua mereka, dia tidak akan menyesalinya meskipun dengan itu dia tidak pernah mengecap cinta sejatinya bersama Wati, ataupun membahagiakan anak gadisnya Liza.

Kenyataan yang kini harus dihadapinya begitu menyesakan hatinya, Luther terkena serangan jantung karena tidak sanggup menghadapi kenyataan yang begitu kejam ini padanya. Waktu dan takdir tidak pernah memihak pada cintanya, waktu seolah meledeknya karena tidak berhasil memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya. Luther tidak mengetahui jawaban tentang pertanyaan yang begitu menyayat hatinya.

“Apakah yang harus aku lakukan dengan hubungan Piter dan Liza..?”

Luther menentang hubungan mereka, tentu. Perbuatan seperti ini masih tabu di negara ini, bahkan di dunia. Tidak ada tempat bagi rasa cinta saudara sedarah, dan Luther tidak ingin menyembunyikannya lagi. Luther ingin mengakui anak gadisnya yang malang, anak gadisnya yang tak pernah mengecap manisnya kehidupan, anak gadisnya yang tak pernah mengenal ayah kandungnya, yang hidup dengan sengsara untuk menyambung perut dan hari esok.

Luther menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya yang letih, wajah laki-laki tua itu begitu murung, dia seolah sepuluh tahun lebih tua karena memikirkan masalah ini.

“Apa yang harus aku lakukan, Wati..” bisik Luther dalam doanya.

Luther mengangkat telephone rumahnya, memencet sebuah nomer telephone yang sudah dihafalnya diluar kepala.

“Anton? Aku ingin kau menyelidiki semua hal mengenai hubungan anakku Piter dengan kekasihnya, Elizabeth. Apapun yang bisa kau dapatkan, kegiatan mereka dari pagi hingga keesokan harinya selama sebulan penuh, informasi apa yang akan mereka lakukan, apapun. Terutama Elizabeth. Dan jangan sampai ketahuan, aku menunggu kabar darimu setiap hari. Hubungi nomerku yang biasa, selain nomer itu kau jangan sekali-sekali menghubungiku” Luther menutup telephone rumahnya, menghembuskan nafasnya lagi dan turun dari ranjang.

Sudah pukul sebelas pagi dan dia tidak diizinkan untuk bekerja oleh dokternya. Luther tidak terbiasa bersantai-santai dirumah, dia akhirnya memutuskan masuk ke dalam ruang bacanya dan berdiam diri disana melihat-lihat lagi foto Wati dan Elizabeth kecil yang dimilikinya di dalam laci-laci tersembunyi meja kerjanya. Laci-laci yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya.

~~~~

Piter memarkirkan mobilnya di garasi rumah disamping lima buah mobil mewah lain yang berderet mengisi tempat itu. Dua diantaranya adalah miliknya, sebuah BMW silver metalik dan Ferrari berwarna merah yang jarang dipakainya. Mobil itu hanya menjadi hiasan garasi dan tidak benar-benar ingin dikemudikannya.

“Dad dimana?” tanya Piter pada ibunya yang sedang berbicara di telephone. Wanita itu mengangkat tangannya di udara, meminta Piter untuk menunggu.

Saat dia telah selesai, Bianca menyerahkan sebuah map kepada Piter.

“Bukalah” perintah Bianca.

Piter duduk di seberang ibunya, wajahnya tidak menunjukan semangat keingin-tahuan yang ibunya cari. Piter sedang memikirkan banyak hal, dia tidak terlalu ingin tahu apa yang diberikan ibunya kepadanya.

“Apa ini, Mom?” tanya Piter datar.

“Bukalah, kau akan tahu” Bianca menghisap rokoknya dengan nikmat, tak satupun anggota keluarga itu yang tidak merokok. Mereka memakai rokok sebagai alat pelampiasan frustasinya.

Piter membuka map itu, berisi setumpuk kertas yang bertuliskan “Surat Formulir Pembuatan Akte Perkawinan” tertanggal enam belas tahun yang lalu. Piter menoleh kepada ibunya, namun wanita tua itu memerintahkannya untuk membuka lembar demi lembar surat itu. Piter mematuhinya.

Surat itu telah dibubuhi data-data dan tanda tangan dari ayahnya, namun tidak dengan calon mempelai wanitanya. Disana dituliskan bahwa ayahnya akan mengambil istri kedua dan telah mendapatkan izin dari pengadilan waktu itu. Tapi mengapa pernikahan itu tidak terlaksana dan formulir ini berada di tangan ibunya?

Piter membaca berulang-ulang kertas-kertas itu, tidak ada satupun tanda atau informasi mengenai mempelai perempuannya. Dan itulah yang ingin Bianca ketahui dari Piter. Ibunya memerintahkannya untuk mencari tahu siapa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya dan sedang dicarinya selama ini.

“Memang kejadiannya sudah terjadi enam belas tahun yang lalu dan tidak akan berefek apa-apa pada kehidupan kita, tapi Mom hanya ingin tahu siapakah wanita yang ingin dinikahi Dad-mu dibelakang kita. Dan mungkin orang yang dia cari selama ini adalah wanita ini. Kau harus mencari tahu jawaban dari semua pertanyaan ini Piter, tapi jangan sampai Dad-mu tahu. Hanya kita yang perlu tahu hal ini, Dad-mu tak akan menjawab pertanyaan Mom, dan Mom tidak ingin dia curiga. Sehingga hanya kau lah yang bisa menolong Mom. Ini juga demi kebaikanmu, bila Dadmu memiliki istri lain diluar dan memiliki anak lain, maka harta Van Der Wilhem mungkin akan diwariskannya juga pada anak itu” Bianca menatap dengan tajam pada Piter, mencari persetujuan yang diinginkannya.

Piter tidak membalas tatapan ibunya, dia masih sibuk mencerna semua informasi yang baru saja di dengarnya. Ayahnya ingin menikah lagi? Ayahnya tega mengkhianati keluarganya demi seorang wanita? Demi nafsu sesaat? Bagaimana mungkin ayahnya bisa mengecewakan mereka, ayahnya yang baik, ayahnya yang selalu diteladaninya. Kini semua gambaran seorang ayah yang sempurna di dalam kepalanya hancur sudah. Piter tidak bisa menerima kenyataan itu, dia hancur, dia kecewa.

Piter merasa begitu sedih dan sakit hati karena ternyata ayahnya tidak ada bedanya dengan laki-laki lain diluar sana yang berselingkuh dibalik keluarganya dan dengan diam-diam ingin membina keluarga lain disamping keluarga utamanya.

Sampai kapan ayahnya ingin menyembunyikan kenyataan ini? Apakah tidak lebih baik bagi keluarganya bila ayahnya mengenalkan keluarga barunya itu kepada mereka, sehingga dia tidak akan terguncang keras saat sang ayah datang suatu hari kepada mereka dan memperkenalkan istri mudanya bersama anak-anak mereka?

Piter tidak akan mampu menerimanya, dia akan membuat sengsara hidup keluarga baru ayahnya karena telah merampas kasih sayang ayahnya dari mereka. Piter tidak pernah simpati dengan perselingkuhan, meski itu adalah ayahnya sendiri.. dia pasti tidak bisa memaafkannya.

“Aku akan mencari tahu semuanya, Mom. Tenanglah, saat aku tahu.. aku akan memberitahumu. Sekarang, dimana Dad? Aku ingin berbicara hal lain dengannya” Piter bangkit dari duduknya dengan wajah keras dan dingin.

Dia begitu marah dan ingin membunuh seseorang saat ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia mampu mengekang keinginannya untuk meledak-ledak dan menghancurkan sesuatu. Sesampainya dikamarnya, Piter melepaskan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, agar suhu tubuhnya menurun. Meredakan api lahar yang membara dalam kepalanya, lahar yang mendidih dan akan mendidih lagi bila dipanaskan.

Piter telah mengenakan pakaian kerjanya, dia terlihat tampan dan berwibawa dalam rajutan jas hitam gelap jahitan tangan penjahit profesional. Sebuah sapu tangan putih mengintip ujungnya dari saku jasnya. Saat Piter masuk ke dalam kamar baca ayahnya, wajahnya telah kembali seperti biasa, dia bisa menyembunyikan isi perasaannya untuk mencapai apa yang dia inginkan. Ayahnya pun tahu mengenai kelicikannya ini, namun Luther tidak akan pernah menyangka Piter menggunakan keahliannya itu kepadanya.

“Hai, Dad..” sapa Piter saat membuka pintu ruang baca ayahnya. Luther menurunkan kacamata bacanya dan mempersilahkan Luther untuk duduk di depannya.

Piter menarik kursi di depan meja ayahnya, dia melirik buku-buku yang sedang ayahnya baca. Novel roman dan sastra dunia, ada juga novel karangan sastrawan Inggris terkenal, William Shakespeare. Romeo & Juliet.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Piter pada ayahnya.

Luther menyandarkan punggungnya pada kursi, menghela nafas panjang dan beristirahat dari bacaannya.

“Yah, Dad baik. Maaf karena membuat kalian khawatir dengan serangan itu” senyum miris Luther.

It’s OK. Yang terpenting Dad sudah baikan. Dokter memintamu untuk beristirahat, mungkin Dad perlu refreshing ke luar negeri atau kemanapun Dad mau” Piter memperhatikan wajah ayahnya.

Selama ini laki-laki tua di depannya ini selalu tersenyum padanya, tak pernah sekalipun dia memarahinya. Ayahnya memberinya teladan dalam hidup dan Piter memujanya karena itu. Tidak pernah dibayangkannya bahwa ayahnya adalah laki-laki seperti tuduhan ibunya. Piter tidak ingin mempercayainya, namun sesuatu dalam hatinya tahu mungkin hidup ayahnya tak seindah bayangannya selama ini.

“Dad.. Apakah hidupmu bahagia?” tanya Piter tiba-tiba.

Luther menatap wajah anak sulungnya. “Mengapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja ayah bahagia. Ayah memiliki keluarga terhebat di dunia, tentu ayah akan bangga” Luther mencoba memunculkan sebuah senyuman khasnya kepada anaknya.

Piter tersenyum miris, menyadari senyuman yang diberikan ayahnya tidak sebaik senyum yang biasa dia tunjukan.

“Aku.. hanya ingin melihatmu bahagia, Dad.. Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia, hanya itu keinginanku. Kau adalah teladan hidupku, kau adalah orang yang paling kuhormati di dunia ini. Aku tidak ingin mengecewakanmu” Piter menghampiri ayahnya dan memeluk tubuh pria tua itu.

Luther tidak mengerti mengapa anaknya tiba-tiba menjadi sosok pria melankolis, tapi dia menyukainya. Sudah lama mereka tidak berbicara seperti ini. Dan pelukan itu membuat Luther terharu, dia bersyukur memiliki anak-anak hebat seperti Piter dan Herald.

“Aku mencintaimu, Son” Luther menepuk punggung anaknya, kemudian melihat punggung Piter yang perlahan menghilang dibaik pintu yang tertutup.

“I love you.. But i’m sorry if i might be hurting you, Son..” tangis Luther jatuh di pipi. Hatinya hancur membayangkan apa akibat yang akan dia berikan kepada hati anak-anaknya. Pilihan yang akan diambilnya sangat berat, dia harus memberitahukan pada anak-anaknya bahwa mereka bersaudara, Luther akan menjadi algojo yang mengeksekusi kebahagiaan kedua anaknya itu. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...